Oleh Chaidar Abdullah
Jakarta, 19/11 (ANTARA) - Lebih dari dua setengah tahun setelah tergulingnya pemerintah "asuhan" bekas Uni Sovyet di Kabul di bawah pemerintahan Presiden Najibullah belum terlihat perang saudara antar-Mujahidin akan reda apalagi usai.
Najibullah meletakkan jabatan 16 April 1992, setelah 14 tahun digempur berbagai faksi Mujahidin, dan sejak itu tampuk pemerintahan berada di tangan para pejuang.
Tetapi sampai kini hanya penderitaan yang diberikan kepada rakyat negara tersebut, dan bukan perdamaian apalagi kemakmuran.
"Kunci perdamaian sesungguhnya terletak di tangan dua pemimpin yang bertikai di negeri ini, Presiden Burhanuddin Rabbani dan pemimpin oposisi Perdana Menteri Gulbuddin Hekmatyar," kata Duta Besar dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Afghanistan Drs. H. Havid Abdulgani.
Kalau saja kedua orang yang berseteru itu dapat menghentikan permusuhan mereka, perdamaian tentu bisa diwujudkan, katanya kepada lima wartawan Indonesia di Bagram, sekitar 40 kilometer sebelah utara ibukota Afghanistan, Kabul.
Kelima wartawan Indonesia tersebut berada di Afghanistan guna meliput pengiriman bantuan medis Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melalui misi "Jembatan Udara Kemanusiaan" pesawat pinjaman pemerintah Indonesia, Hercules C-130 dari Skuadron 32.
Harapan bagi terwujudnya perdamaian tampaknya sempat bersinar ketika berbagai faksi Afghanistan bulan ini dilaporkan menyepakati dimasukkannya para tokoh independen dalam pemerintah sementara di negeri tersebut sebagaimana diusulkan utusan khusus PBB Mahmud Mestiri.
Pemerintah sementara itu diharapkan akan dapat melaksanakan penengahan dan meredakan benturan antar-faksi Mujahidin.
Sebelumnya, usul tersebut ditampik oleh berbagai faksi Mujahidin Afghanistan, sehingga persetujuan paling akhir itu menimbulkan secercah harapan bahwa jalan menuju perdamaian mulai dirintis.
Akan tetapi Hekmatyar, musuh bebuyutan Rabbani, belum memberi persetujuannya, dan keadaan di lapangan justru sangat berbeda dengan harapan yang ditimbulkan oleh persetujuan tersebut.
Hari Senin (14/11) pertempuran dilaporkan berkecamuk di Policharki, sebelah selatan Kabul, sejak Sabtu malam.
"Itu benar-benar pertempuran besar dengan melibatkan tank dan pesawat tempur," kata seorang wartawan asing yang baru datang dari ibukota Afghanistan tersebut, yang sampai sekarang dikuasai pasukan Rabbani. Tetapi, sulit untuk mengetahui jumlah korban akibat pertempuran tersebut.
Peran Dostum
Jenderal Abdul Rashid Dostum, bekas antek Najibullah yang membelot ke pihak Mujahidin hanya beberapa bulan sebelum tergulingnya pemimpin Afghanistan dukungan bekas Uni Sovyet tersebut tahun 1992, memiliki peran tak kecil dalam pertumpahan darah di negara Mujahidin itu.
Dulu di masa pemerintahan Najibullah, Dostum memimpin kelompok "penerobos". "Jika pasukan Kabul tak mampu menembus garis pertahanan Mujahidin, anak buah Dostum lah yang bertugas menembus barisan itu," kata Havid.
Setelah pemerintahan Najibullah jatuh, Dostum bergabung dengan faksi Presiden Rabbani, Jamiat-I-Islami, dan menempur koalisi faksi Hekmatyar, Hezb-I-Islami, yang berkoalisi dengan faksi Syiah di bawah pimpinan Abdul Ali Mazari, Hezb-I-Wahdat.
Ketika itu, Hekmatyar menuntut agar pasukan milisi Uzbek dari Afghanistan Utara tersebut keluar dari Kabul baru perundingan perdamaian diadakan.
Dostum kemudian memisahkan diri dari Rabbani dan belakangan bergabung dengan kelompok oposisi yang kini menuntut pengunduran diri Rabbani jika perdamaian ingin terwujud di Afghanistan.
Sikap Dostum, yang berubah-ubah, membuat kuat dugaan bahwa ia tak lain dari seorang oportunis. Dugaan tersebut tak dibantah oleh Kuasa Usaha Afghanistan di Jakarta.
Dalam wawancara dengan ANTARA, Abdul Rahim Salarzai menyatakan: "Sikap militernya di waktu lalu telah memperlihatkan perubahan, dan bukan tak mungkin akan berubah lagi di masa mendatang."
Sementara itu Duta Besar dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Afghanistan pun memiliki pandangan tak berbeda dengan Salarzai.
Di Bagram ia berkata: "Mungkin saja Dostum sekarang bergabung dengan Hekmatyar karena, ketika ia menjadi bagian dari faksi pemerintah Rabbani, Dostum tak melihat peluang bahwa ia akan memperoleh kedudukan."
Sekarang gembong milisi Afghanistan Utara itu menduduki bagian utara negeri tersebut, yang diduga mengandung minyak, dengan pangkalan udara cukup besar di Mazar-I-Sharif.
Campurtangan asing
Apa pun peran Dostum sekarang, yang jelas, kata Salarzai, pertumpahan darah di negerinya tak lepas dari campurtangan pihak luar.
Oleh karena itu, ia berharap, negara-negara tetangga di sekitar Afghanistan mau menghentikan kegiatan mereka dalam menyulut api peperangan dan berbalik menyokong, serta mendorong terwujudnya perdamaian.
"Jika kita menelaah berita-berita baik oleh media cetak maupun elektronik, akan timbul pertanyaan dari mana semua kelompok yang berperang di Afghanistan dapat memperoleh senjata," kata Salarzai.
"Dari mana mereka memperoleh amunisi kalau bukan dari luar?" katanya.
Jadi, tambahnya, kalau semua negara yang mendukung faksi asuhan mereka bersedia menghentikan bantuannya, paling tidak pertempuran akan mereda karena semua senapan mesin, bom dan senjata artileri lain tak mungkin "menyalak" tanpa amunisi.
Hasilnya, jalan menuju perlucutan senjata faksi-faksi yang bertikai akan terbuka.
Selain itu, katanya, para pemimpin kelompok yang berperang juga harus meninggalkan hasrat mereka untuk menguasai dan menjalankan roda pemerintahan dengan tangan besi, karena kekerasan hanya akan membuahkan kehancuran.
Ia juga berpendapat, semua upaya menuju perdamaian harus dikoordinasikan terutama dengan kegiatan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mahmud Mestiri. (19/11/94 20:30)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar