Presiden Nigeria Umaru Yar'adua meresmikan pembukaan pertemuan puncak dua hari mengenai meluasnya daerah gurun di negara bagian Bauchi, Nigeria timur-laut, Selasa (17/6/08).
Duta besar Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Israel dan Arab Saudi dijadwalkan menghadiri pertemuan itu --yang merupakan peristiwa tahunan.
Pertemuan tersebut ditujukan untuk bertukar pendapat mengenai cara mengekang meluasnya penggurunan, terutama di sub-Sahara Afrika.
Muazu Gidado, Komisaris Bauchi Urusan Perumahan dan Lingkungan Hidup, mengatakan pengaturan telah selesai untuk menerima Presiden dan utusan penting lain. Ditambahkannya Presiden akan secara simbolis meluncurkan kampanye penanaman pohon di Tirwun, pinggiran Bauchi.
Ia menyatakan kampanye penanaman pohon tahun ini akan berbeda karena pemerintah akan menjamin bahwa dewan lokal dan pemegang saham lain melaksanakan kebijakan itu setelah upacara penanaman pohon tersebut.
Menurut Gidabo, 11 negara garis depan direncanakan menjamin pelaksanaan efektif program itu untuk memeriksa ancaman mengenai terjadinya penggurunan.
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Juni 2008
Rabu, 28 Mei 2008
JERMAN JANJIKAN 500 JUTA EURO GUNA LINDUNGI HUTAN DI DUNIA
Kanselir Jerman Angela Merkel, Rabu (28/5/08), berjanji akan menyediakan 500 juta euro (sekitar 760 juta dolar AS) selama empat tahun ke depan guna membantu melindungi hutan di dunia dan habitat lain.
Saat memberi sambutan dalam pertemuan tingkat tinggi Kovensi PBB mengenai Keragaman Biologi di Bonn, Merkel juga mengatakan Jerman akan meningkatkan dananya bagi perlindungan hutan menjadi 500 juta euro per tahun dari 2013.
"Saya yakin bahwa kita memerlukan perubahan menyeluruh semua jalur dalam pelestarian semua spesies," kata Merkel sebagaimana diberitakan media massa.
Pertemuan ke-9 Konferensi Semua Pihak bagi Konvensi PBB mengenai Keragaman Biologi di Bonn pada 19 Mei untuk berusaha membuka jalan bagi kesepakatan mengenai perlindungan bermacam spesies yang terancam oleh perubahan iklim dan polusi.
Menteri Lingkungan Hidup Jerman Sigmar Gabriel mengatakan semua delegasi ke konferensi tersebut telah menetapkan agenda bagi pembahasan lebih lanjut dalam upaya mencapai kesepakatan global mengenai penyelamatan keragaman hayati.
Satu kesepakatan keragaman hayati yang mengikat dijadwalkan dirundingkan di Jepang pada 2010.
Saat memberi sambutan dalam pertemuan tingkat tinggi Kovensi PBB mengenai Keragaman Biologi di Bonn, Merkel juga mengatakan Jerman akan meningkatkan dananya bagi perlindungan hutan menjadi 500 juta euro per tahun dari 2013.
"Saya yakin bahwa kita memerlukan perubahan menyeluruh semua jalur dalam pelestarian semua spesies," kata Merkel sebagaimana diberitakan media massa.
Pertemuan ke-9 Konferensi Semua Pihak bagi Konvensi PBB mengenai Keragaman Biologi di Bonn pada 19 Mei untuk berusaha membuka jalan bagi kesepakatan mengenai perlindungan bermacam spesies yang terancam oleh perubahan iklim dan polusi.
Menteri Lingkungan Hidup Jerman Sigmar Gabriel mengatakan semua delegasi ke konferensi tersebut telah menetapkan agenda bagi pembahasan lebih lanjut dalam upaya mencapai kesepakatan global mengenai penyelamatan keragaman hayati.
Satu kesepakatan keragaman hayati yang mengikat dijadwalkan dirundingkan di Jepang pada 2010.
Selasa, 27 Mei 2008
KRISIS LAUT ARAL JADI TOPIK PEMBICARAAN DI PBB
Duta Besar lima negara Asia Tengah di PBB, Selasa (27/5/08), menyoroti krisis lingkungan hidup yang mendalam dan melibatkan Laut Aral, yang dulu merupakan danau terbesar keempat di dunia tapi mengalami penyusutan seper-sepuluh ukuran normalnya.
Dalam pernyataan mereka masing-masing yang disampaikan dalam satu seminar PBB, utusan tetap dari Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan, yang negaranya berbagi Basin Laut Aral, secara bulat meminta perhatian dan dukungan dari masyarakat internasional.
Pandangan mereka mengenai parahnya situasi juga diakui oleh para pejabat dari lembaga terkait PBB --Program Pembangunan PBB (UNDP), Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial (DESA) dan Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP)-- yang juga menghadiri pertemuan yang ditaja Uzbekistan tersebut.
"Penggunaan tanpa-batas sumber daya air selama 50 tahun terakhir, yang dimulai pada era Uni Sovyet, telah mengakibatkan salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern --keringnya salah satu bendungan air alam paling indah di planet kita-- Laut Aral," kata Duta Besar uzbekistan Alisher Vohidov, yang memimpin pertemuan itu, sebagaimana dilaporkan.
Menurut Vohidov, volume Laut Aral telah menyusut hampir 10 kali lipat, dan permukaan air telah menyusut lebih dari 4 kali lipat. Permukaan air telah anjlok lebih dari 29 meter, dan garis pantai telah bergeser puluhan kilometer.
Kendati sejauh ini ada berbagai upaya, "jauh lebih sedikit upaya telah dilancarkan untuk benar-benar memperbaiki lingkungan hidup di laut yang mengering itu dan sekitarnya atau untuk meningkatkan kondisi kegiatan di tingkat regional serta internasional", katanya.
"Berbagai upaya oleh negara Asia Tengah belum menghasilkan gerakan efektif masyarakat internasional dalam penanggulangan bencana yang berkembang," katanya.
"Akibatnya ialah serangkaian masalah demografik, sosial-ekonomi dan ekologi telah muncul di wilayah Laut Aral," katanya. "Asalnya dan selanjutnya parahnya konsekuensinya telah menimbilkan ciri global dan internasional."
Vohidov, yang mengutip berbagai masalah seperti penyebaran penyakit, kekurangan air minum, penggurunan dan penurunan kualitas biologi di wilayah itu, mendesak bantuan dari masyarakat internasional.
"Hari ini jadi jelas bahwa tanpa perluasan serius bantuan keuangan dan teknis oleh donor internasional, jelas tak mungkin untuk memperbaiki wilayah Laut Aral dan menyelesaikan maslah yang paling menonjol," katanya.
Duta Besar Tajikistan untuk PBB Sirodijidin Aslov mengumandangkan pandangan rekannya dari Uzbekistan.
Meskipun situasi ekologi di daerah itu mungkin tak dapat dipulihkan ke kondisi awalnya pada 1960-an, Aslov mengatakan berbagai upaya harus dilakukan guna mencegahnya bertambah parah.
"Masalah ini dapat diselsaikan kalau ada kerjasama efisien regional dan dukungan kekuangan yang layak atas nama masyarakat internasional," kata Ashlov.
Kori Udovicki, pemimpin cabang UNDP di Eropa, mengatakan pada pertemuan tersebut bahwa situasi Laut Aral "barangkali adalah salah satu yang paling akut ... krisis lingkungan hidup di dunia".
Tak seperti tsunami, gempa bumi dan topan, krisis itu sendiri tak menyulut "perhatian mendesak dan segera"," katanya. "Tetapi tetap saja, itu memang memerlukan reaksi terpadu dan kokoh dari seluruh masyarakat internasional.
Vohidov mengumumkan rencana negara-negara Asia Tengah untuk mengajukan rancangan resolusi mengenai Laut Aral pada sidang ke-63 Majelis Umum PBB, yang memiliki 192 anggota dan masa tugasnya berakhir September ini.
"Mengingat pentingnya bagi negara Asia Tengah untuk memperhatikan masalah parah ini, kami harap negara anggota PBB akan mendukung gagasan ini," kata utusan Uzbekistan tersebut.
Seminar satu-hari itu diselenggarakan sebagai kelanjutan dari konferensi internasional pada 12 Maret di ibukota Uzbekistan, Tashkent, yang bertujuan mendorong kerjasama internasional guna menanggulangi krisis Laut Aral.
Sebagai acara yang sejalan, pameran foto yang mencela dampak parah ekologi dari krisis itu dibuka Selasa oleh misi Uzbekistan di Markas PBB di New York.
Dalam pernyataan mereka masing-masing yang disampaikan dalam satu seminar PBB, utusan tetap dari Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan, yang negaranya berbagi Basin Laut Aral, secara bulat meminta perhatian dan dukungan dari masyarakat internasional.
Pandangan mereka mengenai parahnya situasi juga diakui oleh para pejabat dari lembaga terkait PBB --Program Pembangunan PBB (UNDP), Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial (DESA) dan Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP)-- yang juga menghadiri pertemuan yang ditaja Uzbekistan tersebut.
"Penggunaan tanpa-batas sumber daya air selama 50 tahun terakhir, yang dimulai pada era Uni Sovyet, telah mengakibatkan salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern --keringnya salah satu bendungan air alam paling indah di planet kita-- Laut Aral," kata Duta Besar uzbekistan Alisher Vohidov, yang memimpin pertemuan itu, sebagaimana dilaporkan.
Menurut Vohidov, volume Laut Aral telah menyusut hampir 10 kali lipat, dan permukaan air telah menyusut lebih dari 4 kali lipat. Permukaan air telah anjlok lebih dari 29 meter, dan garis pantai telah bergeser puluhan kilometer.
Kendati sejauh ini ada berbagai upaya, "jauh lebih sedikit upaya telah dilancarkan untuk benar-benar memperbaiki lingkungan hidup di laut yang mengering itu dan sekitarnya atau untuk meningkatkan kondisi kegiatan di tingkat regional serta internasional", katanya.
"Berbagai upaya oleh negara Asia Tengah belum menghasilkan gerakan efektif masyarakat internasional dalam penanggulangan bencana yang berkembang," katanya.
"Akibatnya ialah serangkaian masalah demografik, sosial-ekonomi dan ekologi telah muncul di wilayah Laut Aral," katanya. "Asalnya dan selanjutnya parahnya konsekuensinya telah menimbilkan ciri global dan internasional."
Vohidov, yang mengutip berbagai masalah seperti penyebaran penyakit, kekurangan air minum, penggurunan dan penurunan kualitas biologi di wilayah itu, mendesak bantuan dari masyarakat internasional.
"Hari ini jadi jelas bahwa tanpa perluasan serius bantuan keuangan dan teknis oleh donor internasional, jelas tak mungkin untuk memperbaiki wilayah Laut Aral dan menyelesaikan maslah yang paling menonjol," katanya.
Duta Besar Tajikistan untuk PBB Sirodijidin Aslov mengumandangkan pandangan rekannya dari Uzbekistan.
Meskipun situasi ekologi di daerah itu mungkin tak dapat dipulihkan ke kondisi awalnya pada 1960-an, Aslov mengatakan berbagai upaya harus dilakukan guna mencegahnya bertambah parah.
"Masalah ini dapat diselsaikan kalau ada kerjasama efisien regional dan dukungan kekuangan yang layak atas nama masyarakat internasional," kata Ashlov.
Kori Udovicki, pemimpin cabang UNDP di Eropa, mengatakan pada pertemuan tersebut bahwa situasi Laut Aral "barangkali adalah salah satu yang paling akut ... krisis lingkungan hidup di dunia".
Tak seperti tsunami, gempa bumi dan topan, krisis itu sendiri tak menyulut "perhatian mendesak dan segera"," katanya. "Tetapi tetap saja, itu memang memerlukan reaksi terpadu dan kokoh dari seluruh masyarakat internasional.
Vohidov mengumumkan rencana negara-negara Asia Tengah untuk mengajukan rancangan resolusi mengenai Laut Aral pada sidang ke-63 Majelis Umum PBB, yang memiliki 192 anggota dan masa tugasnya berakhir September ini.
"Mengingat pentingnya bagi negara Asia Tengah untuk memperhatikan masalah parah ini, kami harap negara anggota PBB akan mendukung gagasan ini," kata utusan Uzbekistan tersebut.
Seminar satu-hari itu diselenggarakan sebagai kelanjutan dari konferensi internasional pada 12 Maret di ibukota Uzbekistan, Tashkent, yang bertujuan mendorong kerjasama internasional guna menanggulangi krisis Laut Aral.
Sebagai acara yang sejalan, pameran foto yang mencela dampak parah ekologi dari krisis itu dibuka Selasa oleh misi Uzbekistan di Markas PBB di New York.
Langganan:
Postingan (Atom)