Penyanyi soul Inggris Amy Winehouse, yang dirawat di rumah sakit Senin (16/6/08) --setelah jatuh pingsan di rumahnya, diperingatkan oleh dokter yang merawatnya, "Hentikan narkotika sekarang --atau mati," demikian laporan surat kabar Inggris The Sun, Rabu (18/6/08).
Penyanyi berusia 24 tahun itu, yang telah berjuang menghadapi masalah kecanduan narkotika, tetap dirawat di rumah sakit untuk pemeriksaan Selasa malam (17/6/08) waktu setempat, dan beberapa dokter memperingatkan dia jika ia pingsan lagi, maka itu akan menjadi yang terakhir baginya.
Satu sumber mengatakan, "Ia mungkin telah lolos sekali ini, tapi akhirnya ia ia takkan bisa bangun lagi."
"Satu-satunya cara menghentikan kejadian itu ialah ia harus henti menggunakan narkotika," katanya.
Pingsannya Winehouse diduga berkaitan dengan kelebihan dosis sangat besar yang dialaminya pada musim panas lalu, kata para dokter.
Pemeriksaan otak saat itu mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan narkotika. Winehouse diberitahu ia akan terus mengalami serangan tersebut kalau ia tak berhenti menjadi pecandu narkotika.
Peraih lima Grammy Awards itu, yang telah menarik perhatian banyak media karena kehidupan pribadinya, dijadwalkan tampil dalam konser ulang-tahun Nelson Mandela di Hyde Park, London, pada 27 Juni.
Suaminya, Blake Fielder-Civil, dinyatakan bersama pada Juni karena memukuli seorang petugas bar dan bersekongkol untuk menghalangi proses pengadilan dengan berusaha membayar orang itu agar tidak bersaksi.
Rabu, 18 Juni 2008
Selasa, 17 Juni 2008
SETELAH TAK BERKUASA, RAJA NEPAL PUN HARUS LEPASKAN FASILITAS
Pemerintah Nepal telah meminta mantan Raja Gyanendra dan putranya, Paras, agar mengembalikan delapan kendaraan pemerintah yang telah mereka gunakan.
Menurut The Kathmandu Post dalam laporan Rabu (18/6/08), pemerintah menyampaikan instruksi tersebut kepada Gyanendra dan Paras pada Selasa (17/6/08).
Satu sumber mengatakan pemerintah belum memperoleh jawaban dari mantan raja itu dan putranya mengenai kendaraan tersebut.
Menurut sumber itu, Gyanendra membawa-serta empat kendaraan ketika ia meninggalkan Istana Narayanhiti, Rabu pekan sebelumnya (11/6/08).
Pemerintah ingin Gyanendra mengembalikan dua kendaraan karena pemerintah sudah memutuskan untuk memberi dia dua kendaraan --satu sedan dan satu jip.
Paras juga telah menggunakan enam kendaraan pemerintah dan beberapa komputer personal serta laptop. Sumber tersebut mengatakan Paras telah mengambil kendaraan dan komputer itu dari Badan Pelestarian Alam Nepal, satu organisasi non-pemerintah yang dipimpin oleh Paras sendiri sebelum April 2006.
Sumber tersebut menambahkan pemerintah telah meminta mantan keluarga raja itu "untuk mengembalikan komputer dan kendaraan tersebut selama dua hari terakhir".
Menurut The Kathmandu Post dalam laporan Rabu (18/6/08), pemerintah menyampaikan instruksi tersebut kepada Gyanendra dan Paras pada Selasa (17/6/08).
Satu sumber mengatakan pemerintah belum memperoleh jawaban dari mantan raja itu dan putranya mengenai kendaraan tersebut.
Menurut sumber itu, Gyanendra membawa-serta empat kendaraan ketika ia meninggalkan Istana Narayanhiti, Rabu pekan sebelumnya (11/6/08).
Pemerintah ingin Gyanendra mengembalikan dua kendaraan karena pemerintah sudah memutuskan untuk memberi dia dua kendaraan --satu sedan dan satu jip.
Paras juga telah menggunakan enam kendaraan pemerintah dan beberapa komputer personal serta laptop. Sumber tersebut mengatakan Paras telah mengambil kendaraan dan komputer itu dari Badan Pelestarian Alam Nepal, satu organisasi non-pemerintah yang dipimpin oleh Paras sendiri sebelum April 2006.
Sumber tersebut menambahkan pemerintah telah meminta mantan keluarga raja itu "untuk mengembalikan komputer dan kendaraan tersebut selama dua hari terakhir".
UNICEF BERUSAHA MENOLONG ANAK-ANAK IRAK MELALUI OPERASI DARURAT
Dana Anak PBB (UNICEF), Selasa 17/6/08), menyatakan lembaga itu akan meningkatkan operasi daruratnya di Irak guna menjangkau lebih banyak anak yang rentan di dalam negeri tersebut.
UNICEF menyatakan kekerasan, pengucilan dan kurangnya kesempatan telah membuat anak-anak Irak menghadapi resiko lebih besar eksploitasi dan pelecehan.
Badan dunia tersebut menyatakan lebih dari 800.000 anak Irak tak dapat bersekolah dan hanya 40 persen memiliki akses ke air yang aman.
Melalui programnya, "Immediate Action for Vulnerable Children and Family, atau IMPACT", UNICEF sekarang bertujuan menyediakan bantuan buat lebih dari 360.000 anak Irak tahun ini.
Program itu akan menjamin bahwa anak-anak memiliki akses ke perawatan kesehatan, termasuk imunisasi dan bantuan medis darurat, dan dilindungi dari kekurangan gizi.
Mereka juga akan memperoleh air minum yang aman dan bantuan pendidikan. Perempuan dan anak-anak korban pelecehan dan rentan akan memperoleh perawatan khusus sesuai dengan keperluan.
"Dalam menanggapi situasi darurat, UNICEF telah memikirkan dan bekerjasama dengan banyak mitra agar dapat lebih baik menanggulangi kebutuhan saat kami menilainya dan juga makin sering berada di lapangan bersama mitra. Ini lah asal-muasal IMPACT Irak," kata Sigrid Kaag, Direktur Regional UNICEF bagi Timur Tengah dan Afrika Utara sebagaimana diberitakan.
"Itu adalah penyesuaian dengan kondisi keamanan di lapangan ... guna memungkinkan kami memiliki akses lebih baik melalui sejumlah mitra LSM (lembaga swadaya masyarakat), serta masyarakat di lapangan guna menangani keperluan akan pendidikan, air yang sehat dan sanitasi serta perlindungan," katanya.
Lebih dari 1,7 juta orang Irak diperkirakan telah menjadi pengunsi di dalam negeri mereka sejak awal 2006, dan separuh dari mereka adalah anak-anak, kata badan PBB tersebut.
UNICEF menyatakan kekerasan, pengucilan dan kurangnya kesempatan telah membuat anak-anak Irak menghadapi resiko lebih besar eksploitasi dan pelecehan.
Badan dunia tersebut menyatakan lebih dari 800.000 anak Irak tak dapat bersekolah dan hanya 40 persen memiliki akses ke air yang aman.
Melalui programnya, "Immediate Action for Vulnerable Children and Family, atau IMPACT", UNICEF sekarang bertujuan menyediakan bantuan buat lebih dari 360.000 anak Irak tahun ini.
Program itu akan menjamin bahwa anak-anak memiliki akses ke perawatan kesehatan, termasuk imunisasi dan bantuan medis darurat, dan dilindungi dari kekurangan gizi.
Mereka juga akan memperoleh air minum yang aman dan bantuan pendidikan. Perempuan dan anak-anak korban pelecehan dan rentan akan memperoleh perawatan khusus sesuai dengan keperluan.
"Dalam menanggapi situasi darurat, UNICEF telah memikirkan dan bekerjasama dengan banyak mitra agar dapat lebih baik menanggulangi kebutuhan saat kami menilainya dan juga makin sering berada di lapangan bersama mitra. Ini lah asal-muasal IMPACT Irak," kata Sigrid Kaag, Direktur Regional UNICEF bagi Timur Tengah dan Afrika Utara sebagaimana diberitakan.
"Itu adalah penyesuaian dengan kondisi keamanan di lapangan ... guna memungkinkan kami memiliki akses lebih baik melalui sejumlah mitra LSM (lembaga swadaya masyarakat), serta masyarakat di lapangan guna menangani keperluan akan pendidikan, air yang sehat dan sanitasi serta perlindungan," katanya.
Lebih dari 1,7 juta orang Irak diperkirakan telah menjadi pengunsi di dalam negeri mereka sejak awal 2006, dan separuh dari mereka adalah anak-anak, kata badan PBB tersebut.
PERTEMUAN PUNCAK SOAL PENGGURUNAN DIMULAI DI NIGERIA TIMUR-LAUT
Presiden Nigeria Umaru Yar'adua meresmikan pembukaan pertemuan puncak dua hari mengenai meluasnya daerah gurun di negara bagian Bauchi, Nigeria timur-laut, Selasa (17/6/08).
Duta besar Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Israel dan Arab Saudi dijadwalkan menghadiri pertemuan itu --yang merupakan peristiwa tahunan.
Pertemuan tersebut ditujukan untuk bertukar pendapat mengenai cara mengekang meluasnya penggurunan, terutama di sub-Sahara Afrika.
Muazu Gidado, Komisaris Bauchi Urusan Perumahan dan Lingkungan Hidup, mengatakan pengaturan telah selesai untuk menerima Presiden dan utusan penting lain. Ditambahkannya Presiden akan secara simbolis meluncurkan kampanye penanaman pohon di Tirwun, pinggiran Bauchi.
Ia menyatakan kampanye penanaman pohon tahun ini akan berbeda karena pemerintah akan menjamin bahwa dewan lokal dan pemegang saham lain melaksanakan kebijakan itu setelah upacara penanaman pohon tersebut.
Menurut Gidabo, 11 negara garis depan direncanakan menjamin pelaksanaan efektif program itu untuk memeriksa ancaman mengenai terjadinya penggurunan.
Duta besar Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Israel dan Arab Saudi dijadwalkan menghadiri pertemuan itu --yang merupakan peristiwa tahunan.
Pertemuan tersebut ditujukan untuk bertukar pendapat mengenai cara mengekang meluasnya penggurunan, terutama di sub-Sahara Afrika.
Muazu Gidado, Komisaris Bauchi Urusan Perumahan dan Lingkungan Hidup, mengatakan pengaturan telah selesai untuk menerima Presiden dan utusan penting lain. Ditambahkannya Presiden akan secara simbolis meluncurkan kampanye penanaman pohon di Tirwun, pinggiran Bauchi.
Ia menyatakan kampanye penanaman pohon tahun ini akan berbeda karena pemerintah akan menjamin bahwa dewan lokal dan pemegang saham lain melaksanakan kebijakan itu setelah upacara penanaman pohon tersebut.
Menurut Gidabo, 11 negara garis depan direncanakan menjamin pelaksanaan efektif program itu untuk memeriksa ancaman mengenai terjadinya penggurunan.
Senin, 16 Juni 2008
SESJEN OKI- PBB BAHAS CARA TANGANI ISLAMOFOBIA
Jenderal (Sesjen) Organisasi Konferensi Islam (OKI) Prof. Ekmeleddin Ihsanoglu telah bertemu dengan Sesjen PBB Ban Ki-moon di Jeddah, Arab Saudi, baru-baru ini.
Pembicaraan mereka terutama dipusatkan pada fenomena Islamofobia, dialog antar-pemeluk agama dan krisis pangan dunia. Prof. Ihsanoglu menyoroti Islamofobia, pangkal penyebabnya dan upaya OKI guna mengatasinya.
Ia menekankan perlunya bagi OKI dan PBB untuk bekerjasama guna menjamin resolusi internasional dikeluarkan guna menanggulangi Islamofobia dan memerangi aksi kebencian dan hasutan terhadap ajaran agama serta lambang-lambang suci, demikian antara lain isi pernyataan OKI.
Pemimpin OKI itu mengatakan berbagai upaya perlu dilancarkan guna menyebarkan budaya toleransi dan dihormatinya pemeluk agama lain serta mendukung dialog konstruktif di antara peradaban.
Ia menunjuk kepada perlunya pengejawantahan semua upaya dan gagasan mengenai masalah tersebut menjadi i'tikad politik yang murni.
Kedua pemimpin itu memuji gagasan yang diluncurkan oleh Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tempat Suci) Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk menyelenggarakan dialog antar-pemeluk agama Tauhid (monoteis) dan Konferensi Dialog Islam Internasional Makkah baru-baru ini.
Sesjen OKI tersebut menyampaikan keyakinannya bahwa gagasan itu akan mendorong berbagai upaya yang dirancang untuk mengangkat citra sesungguhnya Islam.
Ia mengatakan pertemuan lain akan mengikuti guna mendukung dan mendorong budaya toleransi dan dialog serta sumbangan efektif bagi konsolidasi perdamaian dan keamanan di dunia.
Pembahasan mereka juga menyoroti krisis pangan yang mengancam dunia. Prof. Ihsanoglu menyampaikan kesiapan dan kesediaan OKI untuk bekerjasama dengan masyarakat internasional dalam upaya mengatasi krisis itu.
Pada gilirannya, Ban Ki-moon menyatakan bahwa masyarakat internasional telah memperlihatkan kerjasama yang tak diragukan terbukti bermanfaat dalam jangka-pendek.
Kendati demikian, penyusunan resolusi radikal bagi krisis tersebut akan memerlukan waktu yang lebih lama dan upaya terpadu yang lebih besar oleh masyarakat internasional.
Ketika berbicara mengenai masalah energi dan melonjaknya harga minyak, kedua pemimpin tersebut memuji undangan yang disampaikan oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk menyelenggarakan pertemuan global dengan dihadirinya produsen dan konsumen energi.
Mereka menyampaikan optimisme bahwa konferensi itu akan memberi hasil positif.
Ban dan Prof. Ihsanoglu juga membahas sejumlah masalah lain. Mereka membahas kesepakatan baru-baru ini yang ditandatangani di Djibouti antara Pemerintah Federal Peralihan (TFG) dan Aliansi bagi Pembebasan Kembali Somalia (ARS).
Ban menyampaikan penghargaannya bagi peran yang dimainkan oleh delegasi OKI, yang menyumbangkan keberhasilan dalam upaya penengahan dan kerjasama delegasi tersebut dengan PBB selama dua babak perundingan itu.
"Upaya kerjasama semacam itu mencerminkan contoh bagi keefektifan kerjasama dan koordinasi antara PKI dan PBB, terutama yang berkaitan dengan masalah seputar dunia Muslim," kata pemimpin PBB tersebut.
Pembicaraan mereka terutama dipusatkan pada fenomena Islamofobia, dialog antar-pemeluk agama dan krisis pangan dunia. Prof. Ihsanoglu menyoroti Islamofobia, pangkal penyebabnya dan upaya OKI guna mengatasinya.
Ia menekankan perlunya bagi OKI dan PBB untuk bekerjasama guna menjamin resolusi internasional dikeluarkan guna menanggulangi Islamofobia dan memerangi aksi kebencian dan hasutan terhadap ajaran agama serta lambang-lambang suci, demikian antara lain isi pernyataan OKI.
Pemimpin OKI itu mengatakan berbagai upaya perlu dilancarkan guna menyebarkan budaya toleransi dan dihormatinya pemeluk agama lain serta mendukung dialog konstruktif di antara peradaban.
Ia menunjuk kepada perlunya pengejawantahan semua upaya dan gagasan mengenai masalah tersebut menjadi i'tikad politik yang murni.
Kedua pemimpin itu memuji gagasan yang diluncurkan oleh Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tempat Suci) Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk menyelenggarakan dialog antar-pemeluk agama Tauhid (monoteis) dan Konferensi Dialog Islam Internasional Makkah baru-baru ini.
Sesjen OKI tersebut menyampaikan keyakinannya bahwa gagasan itu akan mendorong berbagai upaya yang dirancang untuk mengangkat citra sesungguhnya Islam.
Ia mengatakan pertemuan lain akan mengikuti guna mendukung dan mendorong budaya toleransi dan dialog serta sumbangan efektif bagi konsolidasi perdamaian dan keamanan di dunia.
Pembahasan mereka juga menyoroti krisis pangan yang mengancam dunia. Prof. Ihsanoglu menyampaikan kesiapan dan kesediaan OKI untuk bekerjasama dengan masyarakat internasional dalam upaya mengatasi krisis itu.
Pada gilirannya, Ban Ki-moon menyatakan bahwa masyarakat internasional telah memperlihatkan kerjasama yang tak diragukan terbukti bermanfaat dalam jangka-pendek.
Kendati demikian, penyusunan resolusi radikal bagi krisis tersebut akan memerlukan waktu yang lebih lama dan upaya terpadu yang lebih besar oleh masyarakat internasional.
Ketika berbicara mengenai masalah energi dan melonjaknya harga minyak, kedua pemimpin tersebut memuji undangan yang disampaikan oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk menyelenggarakan pertemuan global dengan dihadirinya produsen dan konsumen energi.
Mereka menyampaikan optimisme bahwa konferensi itu akan memberi hasil positif.
Ban dan Prof. Ihsanoglu juga membahas sejumlah masalah lain. Mereka membahas kesepakatan baru-baru ini yang ditandatangani di Djibouti antara Pemerintah Federal Peralihan (TFG) dan Aliansi bagi Pembebasan Kembali Somalia (ARS).
Ban menyampaikan penghargaannya bagi peran yang dimainkan oleh delegasi OKI, yang menyumbangkan keberhasilan dalam upaya penengahan dan kerjasama delegasi tersebut dengan PBB selama dua babak perundingan itu.
"Upaya kerjasama semacam itu mencerminkan contoh bagi keefektifan kerjasama dan koordinasi antara PKI dan PBB, terutama yang berkaitan dengan masalah seputar dunia Muslim," kata pemimpin PBB tersebut.
SESJEN PBB-DK KUTUK PERTEMPURAN DI CHAD
Sekretaris Jenderal (Sesjen) PBB Ban Ki-moon dan Dewan Keamanan (DK) PBB, Senin (16/6/08), mengutuk meningkatnya serangan oleh gerilyawan Chad, dan DK memperingatkan badan dunia itu akan melakukan tindakan guna menanggulangi ancaman terhadap kestabilan regional.
"Dewan Keamanan mengutuk dengan pernyataan paling kuat serangan yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata Chad sejak 11 Juni 2008," kata DK, Senin, sebagaimana dilaporkan media massa.
"Dewan Keamanan mengutuk semua upaya yang merusak kestabilan dengan kekerasan," katanya. Ditambahkannya DK "siap mempertimbangkan langkah yang sesuai terhadap kelompok itu dan orang-orang yang menjadi ancaman bagi kestabilan wilayah atau melanggar hukum kemanusiaan".
Dalam satu pernyataan, Ban mengatakan ia "sangat prihatin dengan memburuknya situasi keamanan di Chad sebagai akibat dari meletusnya-kembali pertempuran di bagian timur negeri tersebut, terutama serangan paling akhir oleh Kelompok Oposisi Bersenjata Chad".
Pernyataan itu dikeluarkan setelah penentang pemerintah Presiden Idriss Deby Itno menguasai beberapa kota besar lagi di Chad timur dan menyatakan mereka bermaksud merebut ibukota Chad, N'Djamena.
Deby menuduh pasukan militer Uni Eropa (UE) di bagian timur negerinya, Senin, menutup mata terhadap serangan pemberontak yang telah merebut beberapa kota kecil dalam gerak maju secara cepat.
Kecaman pedas Deby terhadap Pasukan Eropa (EUFOR), yang memiliki mandat PBB guna melindungi hampir setengah juta pengungsi sipil di Chad, dikeluarkan menyusul satu pernyataan dari pemberontak yang mengatakan mereka telah merebut kota Biltine di bagian timur negeri tersebut.
Itu adalah kota kecil ketiga yang diserang dalam tiga hari oleh gerilyawan, yang rombongan truk bak terbuka bersenjatanya telah mendesak ke arah barat dari perbatasan dengan Sudan di Chad timur --tempat personil EUFOR melindungi sejumlah kamp pengungsi.
Karena situasi tak stabil, Washington, Senin, mengumumkan AS akan menarik staf diplomatik tak pentingnya ke Kamerun.
Duta Besar Perancis di PBB Jean-Maurice Ripert mengatakan Dewan Keamanan dengan suara bulat menyepakati deklarasi tersebut dalam menghadapi peningkatan pertempuran di dalam wilayah Chad.
"Operasi pemberontak bersenjata ini, yang telah menyampaikan tujuan untuk merebut N'Djamena, merebut dan menggulingkan undang-undang dasar, tak dapat diterima," katanya.
"Dewan Keamanan mengutuk dengan pernyataan paling kuat serangan yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata Chad sejak 11 Juni 2008," kata DK, Senin, sebagaimana dilaporkan media massa.
"Dewan Keamanan mengutuk semua upaya yang merusak kestabilan dengan kekerasan," katanya. Ditambahkannya DK "siap mempertimbangkan langkah yang sesuai terhadap kelompok itu dan orang-orang yang menjadi ancaman bagi kestabilan wilayah atau melanggar hukum kemanusiaan".
Dalam satu pernyataan, Ban mengatakan ia "sangat prihatin dengan memburuknya situasi keamanan di Chad sebagai akibat dari meletusnya-kembali pertempuran di bagian timur negeri tersebut, terutama serangan paling akhir oleh Kelompok Oposisi Bersenjata Chad".
Pernyataan itu dikeluarkan setelah penentang pemerintah Presiden Idriss Deby Itno menguasai beberapa kota besar lagi di Chad timur dan menyatakan mereka bermaksud merebut ibukota Chad, N'Djamena.
Deby menuduh pasukan militer Uni Eropa (UE) di bagian timur negerinya, Senin, menutup mata terhadap serangan pemberontak yang telah merebut beberapa kota kecil dalam gerak maju secara cepat.
Kecaman pedas Deby terhadap Pasukan Eropa (EUFOR), yang memiliki mandat PBB guna melindungi hampir setengah juta pengungsi sipil di Chad, dikeluarkan menyusul satu pernyataan dari pemberontak yang mengatakan mereka telah merebut kota Biltine di bagian timur negeri tersebut.
Itu adalah kota kecil ketiga yang diserang dalam tiga hari oleh gerilyawan, yang rombongan truk bak terbuka bersenjatanya telah mendesak ke arah barat dari perbatasan dengan Sudan di Chad timur --tempat personil EUFOR melindungi sejumlah kamp pengungsi.
Karena situasi tak stabil, Washington, Senin, mengumumkan AS akan menarik staf diplomatik tak pentingnya ke Kamerun.
Duta Besar Perancis di PBB Jean-Maurice Ripert mengatakan Dewan Keamanan dengan suara bulat menyepakati deklarasi tersebut dalam menghadapi peningkatan pertempuran di dalam wilayah Chad.
"Operasi pemberontak bersenjata ini, yang telah menyampaikan tujuan untuk merebut N'Djamena, merebut dan menggulingkan undang-undang dasar, tak dapat diterima," katanya.
ITU SERUKAN PENGUNAAN NOMOR SALURAN GLOBAL BANTUAN BUAT ANAK-ANAK
Serikat Telekomunikasi Internasional (ITU), Senin (16/6/96), menyeru semua negara untuk mensahkan nomor 116 111 bagi saluran telefon bantuan anak-anak sehingga anak kecil di seluruh dunia dapat lebih mudah meminta bantuan atau dukungan.
"Saluran telefon bantuan anak-anak telah menjadi jalur kehidupan bagi anak-anak yang rentan di banyak negara," kata Malcolm Johnson, Direktur Biro Standardisasi Telekomunikasi ITU, sebagaimana dilaporkan media.
"Memiliki satu nomor yang akan dapat digunakan di mana saja akan menguntungkan anak-anak yang memerlukan di seluruh dunia. Saat nomor itu menjadi terrekat dalam kesadaran global, makin banyak anak kecil akan memperoleh manfaat," kata Johnson dalam suatu pernyataan.
Nomor tersebut, 116 111, disarankan sebagai nomor telefon jalur kehidupan anak-anak di seluruh dunia menyusul satu usul dari Jalur Bantuan Anak Internasionl (CHI), satu organisasi yang mewakili jalur bantuan bagi anak-anak secara global.
Data CHI memperlihatkan anak-anak dan remaja melakukan lebih dari 10,5 juta hubungan telefon ke saluran bantuan anak-anak selama setiap tahun pada 2005 dan 2006.
Saluran bantuan anak-anak telah menjadi mekanisme penting bagi anak-anak untuk memperoleh dukungan, penyuluhan, rujukan dan campur-tangan.
ITU menyatakan semua pemerintah mesti mempertimbangkan penyebaran nomor telefon 116 111 untuk memberi akses kepada saluran bantuan yang dikelola oleh berbagai organisasi yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan anak-anak.
Semua negara yang saat ini tak memiliki saluran bantuan anak-anak disarankan menggunakan 116 111 untuk akses telefon ke setiap saluran bantuan anak-anak yang mungkin didirikan pada masa depan.
Negara-negara yang memiliki saluran bantuan anak-anak yang beroperasi dengan sejumlah nomor mesti mempertimbangkan berbagai cara dan sarana untuk mengoperasikan nomor 116 111 sejalan dengan nomor yang kini digunakan.
Saluran telefon 116 111 sudah digunakan di beberapa negara Eropa, termasuk Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Yunani, Hongaria, Portugal dan Swedia.
Pengesahan nomor telefon tersebut oleh ITU diharapkan akan lebih mempermudah pengesahannya di seluruh dunia.
"Saluran telefon bantuan anak-anak telah menjadi jalur kehidupan bagi anak-anak yang rentan di banyak negara," kata Malcolm Johnson, Direktur Biro Standardisasi Telekomunikasi ITU, sebagaimana dilaporkan media.
"Memiliki satu nomor yang akan dapat digunakan di mana saja akan menguntungkan anak-anak yang memerlukan di seluruh dunia. Saat nomor itu menjadi terrekat dalam kesadaran global, makin banyak anak kecil akan memperoleh manfaat," kata Johnson dalam suatu pernyataan.
Nomor tersebut, 116 111, disarankan sebagai nomor telefon jalur kehidupan anak-anak di seluruh dunia menyusul satu usul dari Jalur Bantuan Anak Internasionl (CHI), satu organisasi yang mewakili jalur bantuan bagi anak-anak secara global.
Data CHI memperlihatkan anak-anak dan remaja melakukan lebih dari 10,5 juta hubungan telefon ke saluran bantuan anak-anak selama setiap tahun pada 2005 dan 2006.
Saluran bantuan anak-anak telah menjadi mekanisme penting bagi anak-anak untuk memperoleh dukungan, penyuluhan, rujukan dan campur-tangan.
ITU menyatakan semua pemerintah mesti mempertimbangkan penyebaran nomor telefon 116 111 untuk memberi akses kepada saluran bantuan yang dikelola oleh berbagai organisasi yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan anak-anak.
Semua negara yang saat ini tak memiliki saluran bantuan anak-anak disarankan menggunakan 116 111 untuk akses telefon ke setiap saluran bantuan anak-anak yang mungkin didirikan pada masa depan.
Negara-negara yang memiliki saluran bantuan anak-anak yang beroperasi dengan sejumlah nomor mesti mempertimbangkan berbagai cara dan sarana untuk mengoperasikan nomor 116 111 sejalan dengan nomor yang kini digunakan.
Saluran telefon 116 111 sudah digunakan di beberapa negara Eropa, termasuk Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Yunani, Hongaria, Portugal dan Swedia.
Pengesahan nomor telefon tersebut oleh ITU diharapkan akan lebih mempermudah pengesahannya di seluruh dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)